Hubungan Antara Takdir Dan Ikhtiar

Pengantar

Dalam kehidupan beragama, mempercayai takdir yang datangnya dari Allah merupakan sebuah kewajiban, dikarenakan telah menjadi salah satu rukun dogma yang menjadi dasar dari kepercayaan agama Islam. Percaya takdir Allah, baik atau buruk, merupakan turunan atas janji seorang muslim atas keimanan seseorang kepada Allah atas kuasa-Nya menguasai segala yang ada pada makhluk-Nya (Mahakuasa).

 mempercayai takdir yang datangnya dari Allah merupakan sebuah kewajiban Hubungan Antara Takdir Dan Ikhtiar

Persoalan dan pemahaman takdir memang begitu rumit, lantaran keberadaannya bersifat mistik yang tidak gampang dipahami oleh nalar manusia. Terlebih lagi bila dikaitkan dengan ikhtiar, yang terkesan berseberangan: takdir merupakan otoritas Allah dan insan tidak mempunyai kebebasan, sedangkan dalam ikhtiar insan mempunyai kebebasan. Pada akhirnya, muncul perdebatan di tengah umat Islam dan terbagi dalam tiga golongan; Qadariyah, Asy’ariah dan Jabariah.

Dalam bahasa agama, qadha dan qadar sering diucapkan satu, yaitu takdir, walaupun keduanya mempunyai maksud yang berbeda. Menurut istilah Islam, yang dimaksud dengan qadha yaitu ketetapan Allah semenjak zaman Azali sesuai dengan iradah-Nya perihal segala sesuatu yang berkenan dengan makhluk, sedangkan qadar merupakan perwujudan atau kenyataan ketetapan Allah terhadap semua makhluk dalam kadar dan berbentuk tertentu sesuai dengan iradah-Nya.

Dengan arti ringkas, qadha merupakan ketetapan awal, sedangkan qadar merupakan perwujudan dari qadha yang biasa disebut takdir. Hanya pertanyaannya kemudian, ketika takdir menjadi sebuah ketetapan ilahi, di mana posisi ikhtiar pada manusia? Bisa jadi, seseorang mengatakan, “Buat apa shalat dan puasa, toh bila ditakdirkan masuk surga, tetap masuk surga.” Pemikiran menyerupai itulah yang kemudian melemahkan semangat dalam beribadah. Sebenarnya, walaupun setiap insan telah ditentukan nasibnya, bukan berarti insan hanya tinggal membisu menunggu nasib tanpa ada perjuangan dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha dan dihentikan berputus asa.

Dengan arti lain, insan dituntut untuk berusaha semoga memperoleh yang terbaik baginya. Berhasil atau tidak upaya yang dilakukan, biarkan takdir yang berjalan (al-insan bi at-takhyir wa Allah bi at-takdir).

Kisah-kisah terkait ikhtiar dan takdir

Dalam kaitan ikhtiar dan takdir ini, ada cerita menarik ketika seorang Arab Badui tiba menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda. Setelah ia turun dari kudanya, ia eksklusif menghadap tanpa mengikat kudanya. Rasulullah menegur orang tesebut, “Kenapa kuda itu tidak engkau ikat?.” Orang Arab Badui itu menjawab, ”Biarlah, saya bertawakkal kepada Allah”. Rasulullah pun bersabda, ”Ikatlah kudamu, sehabis itu bertawakkalah kepada Allah”.

Pada masa Khalifah ‘Umar bin Khaththab juga ada cerita menarik. Saat itu, ada seorang pencuri yang dalam persidangan ditanya oleh sang Khalifah, “Mengapa engkau mencuri?”. Pencuri itu menjawab, “Memang Allah sudah mentakdirkan saya menjadi pencuri.” Mendengar balasan tersebut, Khalifah Umar marah, kemudian berkata, “Pukul orang ini dengan cemeti, sehabis itu potonglah tangannya!.” Orang-orang bertanya, “Mengapa hukumannya diperberat menyerupai itu?” Khalifah Umar menjawab, ”Ya, itulah eksekusi yang setimpal. Ia wajib dipotong tangannya lantaran mencuri dan wajib dipukul lantaran berdusta atas nama Allah”. Pada masa ‘Umar pula, beserta rombongan dia berencana pergi ke suatu desa. Beliau mendengar kabar bahwa di desa yang akan dihampirinya telah mewabah suatu penyakit menular atau Thaun. Akhirnya Sayidina Umar tidak melanjutkan perjalanannya. Keputusan Sayidina Umar ini sempat diprotes oleh sebagian sahabat. Dikatakan, “Hai Amirul Mukminin, apakah Anda lari dari Takdir Allah?” Umar menjawab, “Saya lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”

Kisah-kisah tersebut menjelaskan bahwa walaupun Allah telah memilih segala sesuatunya, tetapi insan tetap berkewajiban untuk berikhtiar, dan setiap upaya dan perjuangan dari insan niscaya dihargai oleh Allah.

Pembagian Takdir

Pada posisi inilah, ulama menjelaskan hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar dengan mengelompokkan takdir dalam dua macam: Takdir Mu’allaq dan Mubram.

Takdir Mu’allaq bersahabat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Takdir menerima upah dari sebuah pekerjaan bersahabat kaitannya dengan ikhtiar yang berarti bekerja.

Adapun takdir Mubram terjadi pada diri insan yang tidak sanggup diusahakan atau tidak sanggup di tawar-tawar lagi oleh manusia. Semisal takdir dilahirkan dengan mata sipit, atau dengan kulit hitam, sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan sebagainya.

Dengan demikian, tidak sempurna bila seseorang merasa pesimis sehingga melalaikan kiprah sebagai hamba yang harus taat kepada Allah dengan landasan bahwa nirwana dan neraka telah ditentukan. Bisa jadi, lantaran keengganannya untuk beribadah itulah yang merupakan cuilan dari jalan (ikhtiar) menuju takdir masuk neraka. Demikian pula ketika berbuat taat yang merupakan cuilan dari ikhtiar menuju takdir masuk surga.

Dalam basa ‘Umar bin Khaththab, “Lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain”. Perlu diketahui bahwa pahala dan dosa yaitu belakang layar yang kuasa sepertihalnya nirwana dan neraka. Yang terpenting yaitu bagaimana kita berusaha untuk mencapai ridha yang kuasa dengan berusaha untuk taat pada perintahnya dan menjauhi larangannya sehingga ada impian untuk masuk surga. Sebab, bagaimanapun Allah Mahaadil yang mustahil berbuat zalim pada semua hambanya.

Hubungan Antara Takdir Dan Ikhtiar

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hubungan Antara Takdir Dan Ikhtiar"

Posting Komentar