Waspada! Gejala As Resesi Makin Kuat

Risiko resesi Amerika Serikat (AS) dalam 2 tahun ke depan telah meningkat menjadi 40%, berdasarkan survei ekonom Reuters. Survei ini juga memberikan perubahan signifikan dalam ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS atau Th Federal Reserve (The Fed) naik tahun depan.

Pemicu kekhawatiran tampa dari kurva imbal hasil obligasi AS dgn selisih antara imbal hasil surat 2 dan 10 tahun kurang dari 10 basis poin, kesenjangan terkecil semenjak menjelang resesi terakhir AS.

Kurva imbal hasil yang merata memberikan investor percaya pertumbuhan ekonomi dan inflasi akan melambat. Suatu inversi kurva hasil telah mendahului hampir semua resesi selama setengah kurun terakhir.
Probabilitas resesi AS dalam dua tahun ke depan telah melonjak menjadi 40%, berdasarkan median dari data yang disurvei, yang tertinggi semenjak pertanyaan itu pertama kali ditanyakan pada Mei tahun ini.


Sebelum itu, terakhir kali probabilitas tinggi muncul dalam survei Reuters yaitu pada Januari 2008, hanya 8 bulan sebelum jatuhnya bank investasi AS Lehman Brothers, yang membawa Resesi Hebat.

Kisaran perkiraan, yang berjalan dari 15% sampai 75%, juga memberikan probabilitas resesi yang lebih tinggi dalam 2 tahun ke depan dibandingkan dgn survei yang dilakukan bulan lalu, yang mempunyai kesempatan median 35%.

Kesimpulan tersebut berbaris dgn jajak pendapat Reuters terbaru dari total lebih dari 500 ekonom, manajer investasi, analis mata uang dan mahir taktik ekuitas yang telah terang memberikan momentum ekonomi di AS telah mencapai puncaknya dan penurunan mungkin akan segera terjadi.

Kurva yield Treasury AS diperkirakan akan membalik tahun depan, dan mungkin dalam enam bulan ke depan, dgn resesi diperkirakan akan menyusul secepat setahun sesudah itu, berdasarkan survei terpisah dari mahir taktik pendapatan tetap pada Kamis. 

"Kombinasi dari Fed yang tidak berpikir bahwa membalik kurva imbal hasil yaitu problem (bersama dgn) pandangan global yang mustahil utk meningkatkan secara berkelanjutan. Kemungkinan akan mengarah pada kesalahan kebijakan moneter yang akan mendorong resesi ekonomi," kata Philip Marey, mahir taktik senior AS di Rabobank. "Berapa banyak kenaikan ini mungkin masih belum jelas."

Survei terbaru dari lebih dari 100 ekonom yang diambil 6-13 Desember memberikan ekonomi AS akan melambat pada kuartal-kuartal mendatang dgn pertumbuhan produk domestik bruto tahunan secara tahunan menjadi 1,8% pada pertengahan 2020. Sekitar setengah dari angka terakhir yang dilaporkan sebesar 3,5%.

"Saya pikir semua dorongan utk pertumbuhan akan memudar pada 2019. Makara dari mana pertumbuhan akan datang?" Tanya Joel Naroff, kepala ekonom di Naroff Economic Advisors.

"Apakah kita niscaya akan mengalami resesi? Saya tidak sanggup menyampaikan itu," kata Naroff. 

Namun, Ia menambahkan, "Saya belum mempunyai angka negatif Produk Domestik Bruto (PDB) pada asumsi Saya utk sembilan tahun sekarang, dan 2020 yaitu pertama kalinya sy memasukkan angka negatif ke dalam perkiraan."

Survei mengikuti periode bernafsu utk pasar saham global yang telah mengetuk indeks Standard & Poor's 500 ke level terendah 8 bulan ahad ini. Juga memberikan pergeseran yang memilih dalam ekspektasi utk jalur kenaikan suku bunga Fed selama tahun depan.

Sementara para ekonom dgn bunyi lingkaran dalam survei terbaru menyampaikan bank sentral akan menaikkan suku bunga pada 19 Desember, poin konsensus hanya dua peningkatan pada 2019, mengambil tingkat suku bunga makan menjadi 2,75%-3,00% pada final tahun depan.

Itu yaitu satu kenaikan suku bunga kurang dari 3 peningkatan yang diprediksi dalam survei sebelumnya dan oleh Fed dalam proyeksi ekonomi terbaru yang dirilis pada bulan September. The Fed akan memperbarui perkiraannya pada pertemuan 18-19 Desember.

Namun, dana Fed berjangka yaitu harga hanya satu tingkat kenaikan lagi tahun depan. Memang, 37 dari 58 ekonom, lebih dari 60%, yang menjawab pertanyaan suplemen menyampaikan iman mereka telah bergeser ke arah peningkatan yang lebih sedikit dibandingkan dgn sebulan lalu.

"Jika pengetatan Fed merupakan faktor penting yang meningkatkan risiko resesi pada 2019, maka jeda dalam pengetatan harus cukup utk mencegah risiko tersebut terwujud," kata ekonom di Morgan Stanley.

Pejabat Fed gres saja mulai menandai "titik balik" dalam kebijakan.

Survei juga memperkirakan pengukur inflasi pilihan Fed, harga inti PCE, akan menjadi rata-rata 2,0% pada 2019 dan 2,1% pada 2020.

sumbernya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Waspada! Gejala As Resesi Makin Kuat"

Posting Komentar