Autisme

Autisme ialah suatu kondisi mengenai seseorang semenjak lahir ataupun dikala masa balita, yang menciptakan dirinya tidak sanggup membentuk kekerabatan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari insan lain dan masuk dalam dunia repetitive, acara dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme ialah adanya 6 gangguan dalam bidang:
  • Interaksi sosial,
  • Komunikasi (bahasa dan bicara),
  • Perilaku-emosi,
  • Pola bermain,
  • Gangguan sensorik dan motorik
  • Perkembangan terlambat atau tidak normal.

Salah satu kebiasaan jelek yang asing yang dilakukan oleh orang autis, menumpuk - numpuk benda (kaleng).

Gejala ini mulai tampak semenjak lahir atau dikala masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.

Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) di luarADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) ialah istilah yang digunakan untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:

1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya kendala dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya sikap stereotip pada minat dan aktivitas.

2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan acara yang terbatas, secara umum tidak memperlihatkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta mempunyai tingkat intelegensia rata-rata sampai di atas rata-rata.

3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku jika seorang anak tidak memperlihatkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).

4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak wanita dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.

5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.

Diagnosa Pervasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau digunakan di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS ialah gangguan perkembangan yang cenderung mempunyai karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. 

Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang memengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan bekerjasama dengan orang lain. Ketidakmampuan menyesuaikan diri pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak masuk akal terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada tanda-tanda autisme.
Diagnosis

Secara historis, diagnosa autisme mempunyai persoalan; suatu ketika para hebat dan peneliti dalam bidang autisme bersandarkan pada ada atau tidaknya gejala, dikala ini para hebat dan peneliti sepertinya berpindah menuju banyak sekali karakteristik yang disebut sebagai continuum autism. Aarons dan Gittents (1992) merekomendasikan adanya descriptive approach to diagnosis. Ini ialah suatu pendekatan deskriptif dalam mendiagnosa sehingga menyertakan pengamatan-pengamatan yang menyeluruh di setting-setting sosial anak sendiri. 

Settingya mungkin di sekolah, di taman-taman bermain atau mungkin di rumah sebagai lingkungan sehari-hari anak dimana kendala maupun kesulitan mereka tampak terang di antara teman-teman sebaya mereka yang ‘normal’.

Persoalan lain yang memengaruhi keakuratan suatu diagnosa seringkali juga muncul dari adanya fakta bahwa perilaku-perilaku yang bermasalah merupakan atribut dari teladan asuh yang kurang tepat. Perilaku-perilaku tersebut mungkin saja merupakan hasil dari dinamika keluarga yang negatif dan bukan sebagai tanda-tanda dari adanya gangguan. Adanya interpretasi yang salah dalam memaknai penyebab mengapa anak memperlihatkan persoalan-persoalan sikap bisa menjadikan perasaan-perasaan negatif para orang tua. 

Pertanyaan selanjutnya kemudian ialah apa yang sanggup dilakukan supaya diagnosa semakin akurat dan konsisten sehingga autisme sungguh-sungguh terpisah dengan kondisi-kondisi yang semakin memperburuk? Perlu adanya sebuah model diagnosa yang menyertakan keseluruhan hidup anak dan mengevaluasi hambatan-hambatan dan kesulitan anak sebagaimana juga terhadap kemampuan-kemampuan dan keterampilan-keterampilan anak sendiri. 

Mungkin sempurna jika kemudian disarankan supaya para profesional di bidang autisme juga mempertimbangkan keseluruhan area, misalnya: perkembangan awal anak, penampilan anak, mobilitas anak, kontrol dan perhatian anak, fungsi-fungsi sensorisnya, kemampuan bermain, perkembangan konsep-konsep dasar, kemampuan yang bersifat sikuen, kemampuan musikal, dan lain sebagainya yang menjadi keseluruhan diri anak sendiri.

Bagi para orang renta dan keluarga sendiri perlu juga dicatat bahwa tanda-tanda autisme bersifat individual; akan berbeda satu dengan lainnya meskipun sama-sama dianggap sebagai low functioning atau dianggap sebagai high functioning. Membutuhkan kesabaran untuk menghadapinya dan konsistensi untuk dalam penanganannya sehingga perlu disadari bahwa bahwa fenomena ini ialah suatu perjalanan yang panjang. Jangan berhenti pada ketidakmampuan anak tetapi juga perlu menggali bakat-bakat serta potensi-potensi yang ada pada diri anak. 

Sebagai wangsit kiranya sanggup disebutkan beberapa penyandang autisme yang bisa mengembangkan talenta dan potensi yang ada pada diri mereka, misalnya: Temple Grandine yang bisa mengembangkan kemampuan visual dan teladan berpikir yang sistematis sehingga menjadi seorang Doktor dalam bidang peternakan, Donna William yang bisa mengembangkan kemampuan berbahasa dan talenta seninya sehingga sanggup menjadi seorang penulis dan seniman. 

Bradley Olson seorang mahasiswa yang bisa mengembangkan kemampuan kognitif dan kebugaran fisiknya sehingga menjadi seorang cowok yang aktif dan tangkas dan mungkin masih banyak nama-nama lain yang sanggup menjadi sumber wangsit kita bersama. Pada akhirnya, sebuah label dari suatu diagnosa sanggup dikatakan mempunyai kegunaan jika bisa menawarkan petunjuk bagi para orang renta dan pendidik mengenai kondisi alamiah yang benar dari seorang anak. Label yang menimbukan kebingungan dan ketidakpuasan para orang renta dan pendidik terang tidak akan membawa manfaat apapun.


Simtoma Klinis

Anak dengan autisme sanggup tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang renta seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin sanggup menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangasangan darikelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan tubuh dan mengulang-ulang kata) juga sanggup ditemukan. 

Perilaku sanggup menjadi bergairah (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan kendala bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu menempel pada para penyandang autisme ialah respon-respon yang tidak masuk akal terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu materi tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.

Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini sanggup diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan sampai terberat sekalipun.

1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2. Kesulitan dalam bekerjasama dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit mendapatkan perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola sikap yang tertentu

Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat bermacam-macam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa di antaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang mempunyai kemampuan bahasa yang tinggi umumnya memakai tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.

Terlepas dari banyak sekali karakteristik di atas, terdapat isyarat dan pedoman bagi para orang renta dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikatmenyebutkan 5 jenis sikap yang harus diwaspadai dan perlunya penilaian lebih lanjut :

1. Anak tidak bergumam sampai usia 12 bulan
2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) sampai usia 12 bulan
3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun sampai usia 16 bulan
4. Anak tidak bisa memakai dua kalimat secara impulsif di usia 24 bulan
5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu

Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi alasannya ialah karakteristik gangguan autisme yang sangat bermacam-macam maka seorang anak harus mendapatkan penilaian secara multidisipliner yang sanggup meliputi; Neurolog, Psikolog,Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami duduk kasus autisme.


Simtoma klinis berdasarkan DSM IV

A. Interaksi Sosial (minimal 2):

1. Tidak bisa menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan sahabat sebaya
3. Tidak ada empati, sikap membuatkan kesenangan/minat
4. Kurang bisa mengadakan kekerabatan sosial dan emosional 2 arah

B. Komunikasi Sosial (minimal 1):

1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa asing & diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social

C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):

1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3. Ada gerakan-gerakan asing yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda


Seorang anak penderita autisme, dengan jajaran mainan yang ia buat

Gejala autisme sanggup sangat ringan (mild), sedang (moderate) sampai parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para hebat bahwa belum dewasa dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), mempunyai sikap menyakiti diri sendiri, serta memperlihatkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. 

Sementara mereka yang memperlihatkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, bisa memakai bahasa dan bicaranya secara efektif serta memperlihatkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan bahwasanya akan sangat kuat pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para hebat dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang sempurna bagi mereka. 

Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme mempunyai intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya ialah segera diberikannya intervensi yang sempurna dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.
Referensi baku yang digunakan secara universal dalam mengenali jenis-jenis gangguan perkembangan pada anak ialah ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994 yang keduanya sama isinya. 

Secara khusus dalam kategori Gangguan Perkembangan Perpasiv (Pervasive Developmental Disorder/PDD): Autisme ditunjukkan jika ditemukan 6 atau lebih dari 12 tanda-tanda yang mengacu pada 3 bidang utama gangguan, yaitu: Interaksi Sosial – Komunikasi – Perilaku.
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya sanggup menjadi bukti dari banyak sekali kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi tidak sanggup mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang dikala ini telah berkembang sanggup digunakan untuk mendiagnosa autisme:
  • Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibentuk oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat memakai skala sampai 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, pembiasaan terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
  • The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar investigasi autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
  • The Autism Screening Questionare: ialah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak ia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
  • The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.
Diagnosa yang akurat dari Autisme maupun gangguan perkembangan lain yang bekerjasama membutuhkan pengamatan yang menyeluruh terhadap: sikap anak, kemampuan komunikasi dan kemampuan perkembangan lainnya. Akan sangat sulit mendiagnosa alasannya ialah adanya banyak sekali macam gangguan yang terlihat. Observasi dan wawancara dengan orang renta juga sangat penting dalam mendiagnosa. Evaluasi tim yang terdiri dari banyak sekali disiplin ilmu memungkinkan adanya standardisasi dalam mendiagnosa. Tim sanggup terdiri dari neurolog, psikolog,pediatrik, paedagog, patologis ucapan/kebahasaan, okupasi terapi, pekerja sosial dan lain sebaginya.

Penanganan autisme di Indonesia

Intensitas dari treatment sikap pada anak dengan autisme merupakan hal penting, namun persoalan-persoalan fundamental yang ditemui di Indonesia menjadi sangat krusial untuk diatasi lebih dahulu. Tanpa mengabaikan faktor-faktor lain, beberapa fakta yang dianggap relevan dengan duduk kasus penanganan masalah autisme di Indonesia di antaranya adalah:

1. Kurangnya tenaga terapis yang terlatih di Indonesia. Orang renta selalu menjadi penggagas dalam proses intervensi sehingga pada awalnya pusat-pusat intervensi bagi anak dengan autisme dibangun berdasarkan kepentingan keluarga untuk menjamin kelangsungan pendidikan anak mereka sendiri.

2. Belum adanya petunjuk treatment yang formal di Indonesia. Tidak cukup dengan hanya mengimplementasikan petunjuk teatment dari luar yang penerapannya tidak selalu sesuai dengan kultur kehidupan belum dewasa Indonesia.

3. Masih banyak kasus-kasus autisme yang tidak di deteksi secara dini sehingga ketika anak menjadi semakin besar maka semakin kompleks pula duduk kasus intervensi yang dihadapi orang tua. Para hebat yang bisa mendiagnosa autisme, informasi mengenai gangguan dan karakteristik autisme serta lembaga-lembaga formal yang menawarkan layanan pendidikan bagi anak dengan autisme belum tersebar secara merata di seluruh wilayah di Indonesia.

4. Belum terpadunya penyelenggaraan pendidikan bagi anak dengan autisme di sekolah. Dalam Pasal 4 UU No. 20/2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional telah diamanatkan pendidikan yang demokratis dan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, sumbangan ini membuka peluang yang besar bagi para penyandang autisme untuk masuk dalam sekolah-sekolah umum (inklusi) alasannya ialah hampir 500 sekolah negeri telah diarahkan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan inklusi.

5. Permasalahan final yang tidak kalah pentingnya ialah minimnya pengetahuan baik secara klinis maupun mudah yang didukung dengan validitas data secara empirik (Empirically Validated Treatments/EVT) dari penanganan-penanganan masalah autisme di Indonesia. Studi dan penelitian autisme selain membutuhkan dana yang besar juga harus didukung oleh validitas data empirik, namun secara etis tentunya tidak ada orang renta yang menginginkan anak mereka menjadi percobaan dari suatu metodologi tertentu. 

Kepastian dan jaminan bagi proses pendidikan anak merupakan pertimbangan utama bagi orang renta dalam menentukan salah satu jenis treatment bagi anak mereka sehingga jika keraguan ini sanggup dijawab melalui otoritas-otoritas ilmiah maka semakin terbuka informasi bagi masyarakat luas mengenai pengetahuan-pengetahuan baik yang bersifat klinis maupun mudah dalam proses penanganan masalah autisme di Indonesia.

Terapi Bagi Individu dengan Autisme

Bila ada pertanyaan mengenai terapi apa yang efektif? Maka balasan atas pertanyaan ini sangat kompleks, bahkan para orang renta dari belum dewasa dengan autisme pun merasa resah ketika dihadapkan dengan banyaknya treatment dan proses pendidikan yang ditawarkan bagi anak mereka. Beberapa jenis terapi bersifat tradisional dan telah teruji dari waktu ke waktu sementara terapi lainnya mungkin gres saja muncul. Tidak menyerupai gangguan perkembangan lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi mekanisme yang standar dalam menangani autisme. 

Bagaimanapun juga para hebat sependapat bahwa terapi harus dimulai semenjak awal dan harus diarahkan pada kendala maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak autis, misalnya; komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Treatment yang komprehensif umumnya meliputi; Terapi Wicara (Speech Therapy), Okupasi Terapi (Occupational Therapy) dan Applied Behavior Analisis (ABA) untuk mengubah serta memodifikasi perilaku.

Berikut ini ialah suatu uraian sederhana dari banyak sekali literatur yang ada dan ringkasan klarifikasi yang tidak menyeluruh dari beberapa treatment yang diakui dikala ini. Menjadi keharusan bagi orang renta untuk mencari tahu dan mengenali treatment yang dipilihnya eksklusif kepada orang-orang yang profesional dibidangnya. Sebagian dari teknik ini ialah acara menyeluruh, sedang yang lain dirancang menuju sasaran tertentu yang menjadi kendala atau kesulitan para penyandangnya.
  • Educational Treatment, mencakup tetapi tidak terbatas pada: Applied Behavior Analysis (ABA) yang prinsip-prinsipnya digunakan dalam penelitian Lovaas sehingga sering disamakan dengan Discrete Trial Training atau Intervensi Perilaku Intensif.
  • Pendekatan developmental yang dikaitkan dengan pendidikan yang dikenal sebagai Floortime.
  • TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication – Handicapped Children).
  • Biological Treatment, mencakup tetapi tidak terbatas pada: diet, pemberian vitamin dan pemberian obat-obatan untuk mengurangi perilaku-perilaku tertentu (agresivitas, hiperaktif, melukai diri sendiri, dsb.).
  • Speech – Language Therapy (Terapi Wicara), mencakup tetapi tidak terbatas pada perjuangan penanganan gangguan asosiasi dan gangguan proses auditory/pendengaran.
  • Komunikasi, peningkatan kemampuan komunikasi, menyerupai PECS (Picture Exchange Communication System), bahasa isyarat, taktik visual memakai gambar dalam berkomunikasi dan pendukung-pendukung komunikasi lainnya.
  • Pelayanan Autisme Intensif, mencakup kerja team dari banyak sekali disiplin ilmu yang menawarkan intervensi baik di rumah, sekolah maupun lngkungan sosial lainnya.
  • Terapi yang bersifat Sensoris, mencakup tetapi tidak terbatas pada Occupational Therapy (OT), dan Auditory Integration Training (AIT).
Dengan adanya banyak sekali jenis terapi yang sanggup dipilih oleh orang tua, maka sangat penting bagi mereka untuk menentukan salah satu jenis terapi yang sanggup meningkatkan fungsionalitas anak dan mengurangi gangguan serta kendala autisme. Sangat disayangkan masih minim data ilmiah yang bisa mendukung banyak sekali jenis terapi yang sanggup dipilih orang renta di Indonesia dikala ini. Fakta menyebutkan bahwa sangat sulit menciptakan suatu penelitian mengenai autisme

Sangat banyak variabel-variabel yang dimiliki anak, dari tingkat keparahan gangguannya sampai lingkungan sekitarnya dan belum lagi budbahasa yang ada didalamnya untuk menciptakan suatu penelitian itu sungguh-sungguh terkontrol. Sangat mustahil mengontrol semua variabel yang ada sehingga data yang dihasilkan dari penelitian-penelitian sebelumnya mungkin secara statistik tidak akurat.

Tidak ada satupun jenis terapi yang berhasil bagi semua anak. Terapi harus diadaptasi dengan kebutuhan anak, berdasarkan pada potensinya, kekurangannya dan tentu saja sesuai dengan minat anak sendiri. Terapi harus dilakukan secara multidisiplin ilmu, contohnya menggunakan; okupasi terapi, terapi wicara dan terapi sikap sebagai basisnya. Tenaga hebat yang menangani anak harus bisa mengarahkan pilihan-pilihan anda terhadap banyak sekali jenis terapi yang ada dikala ini. 

Tidak ada jaminan apakah terapi yang dipilih oleh orang renta maupun keluarga sungguh-sungguh akan berjalan efektif. Namun demikian, tentukan salah satu jenis terapi dan laksanakan secara konsisten, jika tidak terlihat perubahan atau kemajuan yang kasatmata selama 3 bulan sanggup melaksanakan perubahan terapi. Bimbingan dan isyarat yang diberikan harus dilaksanakan oleh orang renta secara konsisten. Bila terlihat kemajuan yang signifikan selama 3 bulan maka bentuk intervensi lainnya sanggup ditambahkan. Tetap bersikap obyektif dan tanyakan kepada para hebat jika terjadi perubahan-perubahan sikap lainnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Autisme"

Posting Komentar