Pengalaman Kegalauan Berangkat Ke Kampung Inggris Pare


Hello sobat.., jumpa lagi nih dengan artikel ihwal kampung Inggris. Setelah sebelumnya saya sudah membuatkan mengenai gosip kampung Inggris, pada artikel ini saya akan bercerita mengenai pengalaman mengenai rencana untuk mengikuti kursus di kampung Inggris yang banyak tertunda. Hahaha.. (Sorry yaa.. artikel yang ini hanya untuk curhat saja.., tidak ada maksud tertentu.. siapa tau bisa jadi semangat motivasi dan ilham bagi pembaca untuk berangkat ke sana lebih awal). Langsung saja yaah...

Saya mengetahui adanya kampung Inggris di Pare ketika masih kuliah di UM, tepatnya di semester 2 tahun 2009. Pada ketika itu saya diajak sobat saya untuk kursus di Pare untuk mengisi liburan, Akan tetapi, tidak jadi berangkat lantaran takut tidak bisa mengikuti dengan baik. Sebab, konon katanya, kursus di Kampung Inggris harus berkomunikasi dengan menggunakan bahasa inggris sepanjang waktu (hahaha..., cemen sekali ane waktu itu, belum berangkat dah kabur duluan, padahal situasi di sana tidak menyerupai itu...). Faktor pendukung lain yang menciptakan gagal berangkat yaitu teman-teman yang gak ada kabar jadi berangkat atau tidak.


Seiring berlalunya waktu, ternyata saya tidak bisa berangkat lagi, alasannya yaitu pada liburan sehabis semester 4 dan 6 terdapat kegiatan lain, yaitu Praktek Industri (PI) dan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Hahaha.., nah loh gatot lagi kan!!!, makanya bila punya niat jangan suka diundur. Setelah semester 8, alhamdulillah lulus kuliah, tapi ada warning dari ortu untuk lanjut kuliah. Untuk kesekian kalinya, gagal lagi (ahahaha..., kayaknya memang gag niat berangkat tuh!!).

Tapi keputusan untuk tetap stay tidak sia-sia, lantaran saya jadi lanjut studi ke S2 tahun 2012. Jreng-jreng.., hampir semua dosen pengampu matakuliah di S2 menggunakan buku asing, jurnal gila (English version). Ternyata, yang namanya S2 tuh jarang menggunakan buku produk lokal (hahaha.. makan tuh buku asing) Ampuun dah.. Bukunya tebal-tebal sekali mencapai 500 halaman lebih. Belum baca saja sudah malas. Tapi seluruh kiprah menuntuk untuk merujuk ke buku asing. Mau gag mau yang tetep harus buka tuh buku. Menyantap buku asing, mengetik, edit pake google translate, plus always buka kamus di laptop jadi rutinitas sehari-hari.

Alhamdulillah, semester pertama kuliah di S2 terlewati dengan baik. Keuntungannya, sudah mulai cukup banyak vocabulary atau kosa kata yang berkaitan dengan ilmu studi ku. Akan tetapi, di semester 2 jauh lebih menggila lagi tugasnya (kuliah + PPL + merancang tawaran Tesis), seminggu nonstop tiap malam selalu berteman dengan laptop. Ditambah lagi, kiprah jaringan yang tiap minggunya harus me-resume buku gila per bab (kurang lebih 40-50 halaman perminggu). Google translate masih membantu, tapi tidak banyak, alasannya yaitu untuk kosakata yang menjurus ke disiplin ilmu tertentu, terjemahannya ancur sekali. Bayangin aja, "bridge" diterjemahkan jembatan, "Switch" diterjemahkan saklar. Padahal kedua vocab tersebut yaitu istilah alat jaringan. Ampun dah, harus edit satu persatu untuk bisa paham. Hebatnya, itu masih satu matakuliah, belum matakuliah lainnya.

Alhamdulillah lagi, seluruh pengalaman semester 2 itu menciptakan perbendaharaan kata bahasa inggris menjadi semakin banyak. Sehingga sudah jarang menggunakan kamus. Di penghujung semester 2, ada presentasi mengenai salah satu kampus ternama dari Taiwan. Presentasi itu dilakukan pribadi oleh dosen universitas tersebut. Acara itu dihadiri oleh dosen kampus dan beberapa mahasiswa. Saya dan teman-teman menyempatkan untuk ikut. Karena sifatnya internasional, bahasa yang digunakan tentunya bahasa Inggris dong. Selama berada di dalam ruangan yang saya bisa cuma mendengarkan pemateri sambil terbengong-bengong. Bengong bukan lantaran gosip mengenai kampus mereka, melainkan melamun lantaran tidak mengerti apa yang mereka katakan. untuk listening saja sudah susah apalagi untuk bertanya menggunakan bahasa Inggris (speaking). Nah loh??? Kaprikornus merasa oon untuk kedua kalinya. Ternyata walaupun sudah punya vocab tetap susah untuk memulai speaking dan memahami obrolan bahasa inggris (listening).

Pada semester 2 pula, saya dan teman-teman saya merencanakan untuk pergi ke kampung inggris pada waktu liburan panjang semester 2 (2013). Hal ini dikarenakan kemampuan berbahasa inggris yang dirasa masih kurang jauh. Saat itu saya sudah membulatkan tekat untuk pergi. Ternyata, tragedi 4 tahun yang kemudian terulang lagi. Banyak teman yang memutuskan tidak jadi berangkat (hehehe, tragedi lagi nih). Galau lagi deh.. Berangkat apa nggak ya?? Sudah kepingin sekali, rasa takut sudah hilang, tapi gag ada teman. But, no problem.. Keputusan saya sudah lingkaran untuk berangkat. Saya tidak mau menunda lagi (sudah 4 tahun gitu loh, kenapa harus ditunda lagi??). Saya harus berangkat!!!

Nggak terasa liburan sudah datang. Liburan yang cukup panjang sekitar 3 bulan. Kebiasaan kejar tayang dengan laptop setiap hari menciptakan hari libur terasa begitu membosankan, tidak ada acara yang menarik. Saya memastikan sekali lagi kepada teman-teman yang masih mau pergi ke Pare (cari sobat nih). Akhirnya, ada satu sobat yang juga ingin berangkat ke kampung Inggris untuk mengisi liburan. Senang sekali rasanya lantaran punya sobat berangkat. Langkah awal, cari dulu gosip banyak sekali forum kursus melalui internet. Pembayarannya bisa transfer atau tiba langsung. Tapi, dari banyak sekali gosip yang ada itu masih belum cukup puas. Jadi, kami memutuskan untuk pergi ke kampung inggris. Awal liburan, hari jumat, kami merencanakan untuk survey lokasi. Jadilah, mbolang (tour) ke kampung inggris seharian.

Ok, berhubung sudah terlalu banyak paragraf, cukup segini dulu yach.. Nanti saya lanjut lagi di postingan selanjutnya. Semoga bisa menjadi motivasi dan ilham bagi pembaca sekalian. Intinya adalah, "jangan tunda suatu keputusan yang sudah dibentuk apabila sudah ada niat, waktu luang, apalagi biaya". Kalau anda menundanya, belum tentu anda bisa berangkat di lain waktu, lantaran niscaya ada kesibukan lainnya. Selain itu, menunda juga akan merugikan pada perjalanan hidup anda selanjutnya, seharusnya sudah bisa jalan, tapi masih tetap saja stay di kawasan tidak ada perubahan dan tertinggal dengan yang lainnya. Belum lagi, biaya kursus dan biaya hidup yang naik. Toh bila dilakukan juga niscaya bisa terlewati. Semoga bisa menjadi motivasi dan ilham bagi pembaca sekalian. Apabila ingin sharing silahkan tulis di serpihan komentar dengan bahasa yang baik dan benar, OK!!.

See you in the next posting...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengalaman Kegalauan Berangkat Ke Kampung Inggris Pare"

Posting Komentar